Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

8 Jenis Burung Di Indonesia Yang Hampir Punah

Terdapat 8 dari 26 jenis burung langka yang ada di wilayah Indonesia kini keberadaanya hampir terancam punah menurut atau masuk kedalam daftar merah IUCN. Burung apa sajakah itu? Ayo, kita kenali jenis-jenis burung tersebut!

Daftar merah IUCN ialah sebuah data yang mencatat status keberadaan spesies flora maupun fauna yang terdapat di seluruh dunia yang keberadaanya hampir terancam punah.

Daftar merah tersebut lebih dikenal dengan istilah IUCN Red List, yang setiap waktu akan terus diperbaharui oleh ratusan ilmuwan yang melakukan penelitian dan menyusun kembali isi daftar tersebut.

Tiap hewan yang masuk kedalam daftar merah tersebut akan dikelompokkan menjadi 9 kategori, yakni mulai dari NE atau Not Evaluated sampai EX atau Extrinct.

Saat tahun 2019 yang lalu daftar merah tersebut telah diperbarui dan terdapat 26 jenis burung yang keberadaanya semakin terancam punah di dunia.

Hal yang paling parah ialah dari 26 jenis burung tersebut, terdapat 8 jenis burung langka yang berasal dari Indonesia. Burung apa sajakah itu?

Jenis-jenis Burung Langka di Indonesia Yang Hampir Punah

8 jenis burung di Indonesia hampir punah


1. Burung Gosong Tanimbar

Burung gosong tanimbar hampir punah

Burung gosong tanimbar dengan nama latin Megapodius tenimberensis apabila Anda amati sekilas bentuknya sangatlah mirip dengan ayam.

Akan tetapi, meskipun secara fisiknya nampak seperti ayam tapi aslinya Ia masuk kedalam spesies burung dan masuk kedalam famili megapodiidae.

Burung gosong tanimbar ini mempunyai habitat asli di pulau Tanimbar  kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Sedangkan untuk wilayah persebarannya burung gosong ini tidak luas atau terbatas, sehingga burung ini masuk kedalam Kategori Vulnerable (VU) atau rentan.

Pada waktu sebelumnya burung ini masih masuk kedalam kategori hampir terancam (Near Treathened/NT).

2. Burung Empuloh Janggut

Burung cucak jenggot hampir punah

Burung Empuloh Janggut atau lebih dikenal dengan nama ' Cucak Jenggot ' dikalangan kicau mania.

Dinamakan cucak jenggot karena pada bagian bawah kepala terdapat bulu-bulu berwarna putih yang menyerupai jenggot.

Sedangkan nama latin dari burung jenis ini adalah Alophoixus bres, sedangkan burung cucak jenggot sendiri hanya terdapat di pulau Jawa saja.

Sementara burung Empuloh lainnya yang berasal dari pulau Jawa adalah spesies yang berbeda.

Pada beberapa waktu yang lalu burung 
Cucak jenggot sendiri masih masuk kedalam kategori resiko rendah atau least concern (LC).

Akan tetapi, apabila kita menilik ke daftar merah IUCN setelah pembaruan tahun lalu, kini status burung cucak jenggot sudah naik dua level statusnya menjadi VU.

Hal ini dikarenakan burung Empuloh Janggut sering diburu karena memiliki suara yang merdu dan harga jualnya cukup lumayan mahal.

3. Burung Langka Trulek Jawa

Burung Trulek Jawa sudah punah

Burung langka satu ini dikenal dengan nama Trulek Jawa yang memiliki nama latin Vanellus macropterus.

Sedangkan ciri-ciri dari burung Trulek yaitu mempunyai warna hitam pada bagian kepala sedangkan untuk bulu bagian tubuh berwarna coklat keabuan. Untuk ukuran tubuh burung ini sekitar 28 cm.

Burung ini diketahui hidup di daerah sepanjang pantai Jawa Barat dan pantai Selatan Jawa Timur.

Berdasarkan dari data terakhir burung Trulek Jawa menampakkan diri di tahun 1940, lalu ada seorang warga yang mengaku pernah melihat penampakan burung Trulek sekitar tahun 2013 silam.

Meski demikian, pencarian yang dilakukan sampai saat ini belum juga membuahkan hasil mengenai penemuan populasi dari burung langka satu ini.

Dengan hal yang demikian, untuk saat ini status dari burung trulek Jawa menjadi Critically Endangered (CE)-Possible Extrinct atau kemungkinan besar burung ini telah punah dalam daftar merah IUCN.

4. Burung Cica-daun Sumatera

Burung cucak ijo Sumatera terancam punah

Dikalangan para penghobi burung kicauan, burung Cica-daun Sumatera lebih akrab dipanggil ' Cucak Ijo Sumatera '.

Burung cucak ijo Sumatera memiliki nama latin Chloropsis media. Untuk ciri-ciri fisik Cica-daun Sumatera yaitu warna bulu burung ini didominasi dengan warna hijau, sedangkan untuk bagian kepala bagian atas terdapat sedikit warna kuning, dan untuk bagian wajah berwarna hitam dengan strip kebiruan pada bagian bawah mata.

Status keberadaan burung cucak ijo Sumatera menurut daftar merah IUCN adalah genting atau Endangered (EN). Burung ini sebelumnya pada tahun 2016 masuk kedalam kategori VU.

Baca juga:

5. Cica-daun Besar (Chloropsis Sonnerati)

Burung Cica-daun besar terancam punah

Selain cica-daun Sumatera, ternyata burung Cica-daun besar juga ikut mengalami kenaikan status menjadi rentan.

Meskipun burung cica-daun besar memiliki wilayah persebaran yang jauh lebih luas, meliputi pulau Jawa, Sumatera, bahkan sampai dengan pulau Kalimantan.

Padahal saat tahun 2012 burung jenis ini masih masuk dalam kategori LC karena memiliki resiko kepunahan yang cukup rendah.

Akan tetapi, pada tahun 2016 mengalami peningkatan status berubah menjadi VU, dan untuk sekarang burung ini masuk kedalam kategori EN.

Hal ini bisa terjadi karena maraknya perburuan liar dari burung cucak ijo besar sebab selain memiliki tampilan yang identik nan indah burung ini mempunyai suara kicauan yang sangat keras dan merdu.

6. Burung Cica-daun Jawa

Burung cucak ijo Jawa terancam punah

Burung di Indonesia yang hampir mengalami kepunahan selanjutnya masih satu keluarga dengan burung cica-daun yakni burung cica-daun Jawa.

Burung cica-daun Jawa sendiri apabila dibandingkan dengan burung cica-daun lainnya burung ini yang sangat mengkhawatirkan akan terjadinya kepunahan.

Pasalnya, pada saat tahun 2016 burung cica-daun Jawa masih dalam kategori tingkat kepunahan yang rendah atau LC.

Akan tetapi, untuk waktu sekarang ini status dari burung jenis ini status tingkat keterancaman menjadi sangat genting atau EN.

Apabila dilihat dari tampilannya burung Cica-daun Jawa jauh mempunyai tampilan yang lebih menarik, yaitu memiliki warna sangat mencolok pada bagian sayap terdapat warna biru terang dan terdapat warna kuning tipis disekitar area kepala.

Tak ayal apabila banyak terjadi perburuan liar karena tampilan yang memukau serta suara yang sangat merdu dari burung ini.

7. Burung Kerak Perut-Pucat

Burung kerak perut pucat hampir punah

Apabila Anda amati burung Kerak Perut-Pucat sekilas mirip sekali dengan burung jalak kerbau.

Hal itu karena burung kerak perut pucat termasuk dalam keluarga burung jalak, akan tetapi burung jenis hanya dapat ditemui di daerah Sulawesi Selatan.

Sedangkan untuk ciri-ciri burung kerak perut pucat ditandai dengan warna bulu pada tubuhnya tampak seperti pucat, sedangkan untuk bagian ekor dari burung ini terdapat pola warna putih.

Burung kerak perut pucat memiliki nama latin yaitu Acridotheres Cinereus.
Sedangkan populasi dari burung ini antara 250 sampai dengan 9999 ekor, Sehingga burung ini masuk kedalam kategori VU.

Meskipun pada tahun 2016 burung burung ini masuk kedalam kategori LC.

8. Burung Langka Kacamata Jawa

Burung pleci dada kuning hampir punah

Burung kacamata Jawa dengan nama latin Zosterops flavus, namun burung ini lebih terkenal dikalangan para pecinta burung kicau dengan nama burung ' Pleci '.

Diantara dari beberapa jenis burung kacamata, burung kacamata Jawa memiliki warna bulu bagian tubuh agak kekuningan serta tidak mempunyai garis melintang diantara paruh dan mata.

Dengan ciri-ciri demikian burung kacamata Jawa ini menjadi sangat populer dikalangan para penghobi burung kicauan dan hal yang tak bisa dipungkiri yaitu burung ini mempunyai harga jual yang cukup tinggi.

Oleh sebab itu, burung kacamata Jawa berubah status dari VU menjadi EN untuk sekarang ini.

Hal itu disebabkan karena banyaknya perburuan liar dengan tujuan untuk diperdagangkan secara bebas.

Regulasi Perlindungan Burung Langka di Indonesia


Mengenai keberadaan dari burung langka sebenarnya sudah diatur dalam Undang-undang.

Sedangkan peraturan tentang satwa yang dilindungi telah tertuang dalam UU No.5 tahun 1990.

Pada pasal 21 ayat 2 huruf a dan b, menjelaskan bahwa:

"Siapa saja tidak boleh sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati"

Perbuatan tersebut dapat dikenakan sanksi dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan didenda paling banyak 100 juta.

Tak cukup sampai disitu saja, bagi seseorang yang dengan sengaja menjual, menyimpan, atau memiliki bagian dari satwa yang dilindungi juga akan diancam dengan hukuman yang sama.

Meskipun demikian, lampiran mengenai daftar satwa liar yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan tampaknya belum selaras dan sejalan dengan daftar merah milik IUCN.