Apakah Boleh Berkurban Pada Hari Raya Idul Adha dengan Cara berhutang?

Idhul Adha 2019 - Apakah Boleh Berkurban Pada Hari Raya Idul Adha dengan Cara berhutang??



Blogdaffa.com - Berkurban pada Hari Raya Idhul Adha bagi umat Islam hukum nya Sunnat Mu'akad yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia ialah Ibadah Sunah yang dianjurkan.

Namun apa jadi nya jika seseorang hendak melaksanakan ibadah sunnat mu'akad tersebut dengan cara berhutang? - Bolehkah berhutang untuk kurban dan apa hukumnya.

Dikutip dari laman beberapa ulama menjelaskan bahwa sasaran berkurban adalah orang yang mampu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki, namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad 8273, Ibnu Majah 3123, dan sanad hadits dihasankan al-Hafizh Abu Thohir).
Tidak ada aturan dan hadist tentang larangan seseorang tidak boleh berkurban dengan cara berhutang.
Sementara itu, dikutip dari laman konsultasisyariah.com, Dalam Majmu' Fatawa dijelaskan hukum berhutang untuk kurban:
إذا كان الرجل ليس عنده قيمة الأضحية في وقت العيد لكنه يأمل أن سيحصل على قيمتها عن قُرب، كرجل موظف ليس بيده شيء في وقت العيد، لكن يعلم إذا تسَلَّم راتبه سهل عليه تسليم القيمة فإنه في هذه الحال لا حرج عليه أن يستدين، وأما من لا يأمل الحصول على قيمتها من قرب فلا ينبغي أن يستدين للأضحية
"Ketika seseorang tidak memiliki dana untuk kurban di hari ‘id, namun dia berharap akan mendapatkan uang dalam waktu dekat, seperti pegawai, ketika di hari ‘id dia tidak memiliki apapun.
Namun dia yakin, setelah terima gaji, dia bisa segera serahkan uang kurban, maka dalam kondisi ini, dia boleh berhutang.

Sementara orang yang tidak memiliki harapan untuk bisa mendapat uang pelunasan kurban dalam waktu dekat, tidak selayaknya dia berhutang."

Beliau juga menjelaskan:
أما إذا كان لا يأمل الوفاء عن قريب فإننا لا نستحب له أن يستقرض ليضحي؛ لأن هذا يستلزم إشغال ذمته بالدين ومنّ الناس عليه، ولا يدري هل يستطيع الوفاء أو لا يستطيع
"Jika tidak ada harapan untuk melunasinya dalam waktu dekat, kami tidak menganjurkannya untuk berhutang agar bisa berkurban. Karena semacam ini berarti dia membebani dirinya dengan utang, untuk diberikan kepada orang lain. Sementara dia tidak tahu, apakah dia mampu melunasinya ataukah tidak." (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 25/110).

Hukum Menjual Daging Kurban dan Cara Pembagian Daging Kurban Pada Hari Raya Idul Adha

Hewan yang di kurbankan di Hari Raya Idhul Adha pasti akan di sembelih.
Pada umumnya daging dari hewan tersebut akan dibagigakn ke warga atau masyarakat sekitar.

Dari hal inilah muncul sebuah pertanyaan: Bolehkah kita menjual daging kurban yang telah kita terima? - Bagaimana hukum nya menurut pandangan para ulama islam.

Dikutip dari hadist nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abi Sa'id menjelaskan soal larangan menjual daging kurban.
وَلَا تَبِيْعُوْا لحُوُمَ اْلهَدْيِ وَاْلأُضَاحِي
Artinya: “Janganlah kalian menjual daging hadiah dan daging kurban”.


Dalam firman Allah SWT juga dijelaskan bahwa sebaiknya hewan kurban dimakan atau dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Firman Allah SWT surat Al-Hajj ayat 28:
فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
Artinya: "Maka makanlah sebagaian darinya (hewan kurban) dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan oleh orang-orang yang sengsara dan fakir".
Tak hanya daging kurban, kulit dari hewan yang dikurbankan, juga dilarang untuk dijual.
Hal tersebut berdasarkan sabda yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW:
مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَتِةِ فَلاَ أُضْحِيَةَ لَهُ. رواه الحاكم
Artinya: “Barang siapa menjual kulit kurbannya maka tidak ada (pahala) kurban baginya”.
Kenapa kulit gak boleh dijual?
Karena kulit hewan dapat di manfaatkan sebagai lulang bedung atau rebana, yang apabila dipakai akan menjadi amal jariyah bagi yang berkurban.

Aturan dan Tata Cara Pembagian Daging Kurban menurut Ulama dan Berapa Bagian untuk yang berkurban?

Saat Hari Raya Idhul Adha tiba umat islam melaksanakan acara kurban.

Kemudian daging hasil dari hewan yang dikurbankan akan dibagikan kepada masyarakat lingkungan sekitar.

Lalu bagaiman cara dan aturan pembagian daging kurban menurut islam, dan berapa bagian untuk yang berkurban?

"Ini adalah sunnah Rasul seperti dalam aqiqah. Rasululullah membagi qurban menjadi tiga, pertama dihadiahkan kepada orang kaya untuk silaturrahim, kedua disedekahkan untuk orang miskin, dan yang ketiga untuk diri sendiri," ungkap Syeikh Ali Jaber.

Dalam kesempatan tersebut, Syeikh Ali Jedar juga menjelaskan bahwa orang yang berkurban, diperbolehkan untuk memakan daging hewan yang dikurban.
"Bahkan Rasulullah SAW sebelum salat 'Ied berpuasa, lalu membatalkannya sesudah shalat dari hasil sembelihan hewan qurban," kata Syeikh Ali.

Sekian secuil informasi sederhana yang dapat mimin tulis di Blogdaffa.com, Semoga bermanfaat dan sedikit menambah wawasan kita semua.

Terimakasih, Sahabat Blogdaffa.com.
Salam hangat Naiya. 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel